Minggu, 13 Agustus 2017

Hari ke hari, minggu ke minggu, bulan ke bulan dan tahun ke tahun tak terasa sudah kita lalui, banyak kenangan indah yang  tidak bisa kulupakan selama bertugas di Sat Sabhara Polres Tanah Laut seperti melaksanakan patroli ke hutan belantara Gunung Mayat dan Gunung Belang Daras di desa Tanjung Kecamatan Bajuin untuk penertiban para penambang emas tanpa ijin dan kegiatan lainnya.
Suasana kekeluargaan sangat terasa disini yang muda menghormati kepada yang lebih tua demikian juga sebaliknya yang tua menyayangi terhadap yang muda. Semua pekerjaan dilaksanakan dengan penuh kegembiraan dan keikhlasan ringan sama dijinjing, berat sama dipikul sehingga semua tugas yang dibebankan kepada Sat Sabhara dapat terlaksana dengan baik.
Ini semua berkat kepemimpinan Akp Riswiadi, S.Sos, M.Ap sebagai Kasat Sabhara Polres Tanah Laut yang tidak membedakan antara anggota yang ini dengan anggota yang lainnya, tidak ada yang namanya anak emas. Saya sendiri sangat terkesan kepada beliau yang sangat hormat kepada anggota yang lebih tua usianya walaupun menurut kepangkatan jauh dibawah beliau.

Namun apalah hendak dikata semua itu telah berakhir. Pepatah ada mengatakan "Setiap ada permulaan pasti ada akhirnya, Setiap ada Pertemuan pasti ada Perpisahan"...Akhirnya tibalah waktunya kita kepada "PERPISAHAN YANG TAK KURINDUKAN". Biarlah semua itu menjadi kenangan yang tak terlupakan 😭😭😭.
Saya hanya bisa mendo'akan semoga Kamandan dan seluruh rekan Sat Sabhara diberikan kekuatan, kesehatan, keselamatan dan selalu dalam Lindungan Allah Swt.
Selanjutnya saya sebagai manusia biasa tentu banyak memiliki kekurangan dan kesalahan baik perbuatan, perkataan maupun tingkah laku yang tidak berkenan dihati, saya memohon ampun dan maaf yang sebesar besarnya.

                                                                oleh : Fathurrahman

Selasa, 08 Agustus 2017




Pada hari Selasa tanggal 8 Agustus 2017 skj 13.20 wita, Sat Sabhara Polres Tanah Laut yang dipimpin oleh Kasat Sabhara Akp Riswiadi, S.Sos, M.Ap dan Kanit Dalmas Ipda Rahmadi.  melaksanakan patroli dialogis terhadap masyarakat desa Ambawang Kec. Batu Ampar di Terminal Tanah Habang Pelaihari.


Masyarakat desa Ambawang berada di Terminal Tanah Habang Pelaihari sejak pagi kemarin Senin tanggal 7 Agustus 2017 dalam rangka mengawal teman teman mereka yang dilakukan pemanggilan dan pemeriksaan oleh Sat Reskrim Polres Tanah Laut sehubungan dengan perkara Sengketa Lahan dan Penganiayaan terhadap Wakar PT. SSA Jorong.


Mereka masyarakat desa Ambawang tidak mau dan bersikukuh untuk tetap berada di Terminal/Polres Tanah Laut sebelum rekan rekan mereka yang ditahan/dilakukan pemeriksaan  bisa diperbolehkan pulang.

Kasat Sabhara dan anggota melakukan dialog serta memberikan pengertian pengertian kepada mereka dengan cara halus dan sopan santun, karena masyarakat yang lagi panas tidak bisa dilawan dengan hati yang panas, yang sedang emosi tidak bisa dilawan dengan emosi. Namun hati yang sedang panas dan penuh emosi setelah diberikan pengertian pengertian secara lemah lembut dan sopan santun, akhirnya mereka mau mengerti dan menyerahkannya kepada proses hukum yang dilakukan oleh Sat Reskrim Polres Tanah Laut.


Setelah berjabatan tangan, akhirnya mereka semua pulang menuju desa Ambawang Kecamatan Batu Ampar.


Semoga Bermanfaat.

Jumat, 28 Juli 2017

Pada zaman pemerintahan Khalifah Syaidina Umar bin Khatab, ada seorang panglima perang yang disegani lawan dan dicintai kawan. Panglima perang yang tak pernah kalah sepanjang karirnya memimpin tentara di medan perang. Baik pada saat beliau masih menjadi panglima Quraish, maupun setelah beliau masuk Islam dan menjadi panglima perang umat muslim. Beliau adalah Jenderal Khalid bin Walid.

Namanya harum dimana-mana. Semua orang memujinya dan mengelu-elukannya. Kemana beliau pergi selalu disambut dengan teriakan, "Hidup Khalid, hidup Jenderal, hidup Panglima Perang, hidup Pedang Allah yang Terhunus." Ya! .. beliau mendapat gelar langsung dari Rasulullah SAW yang menyebutnya sebagai Pedang Allah yang Terhunus.

Dalam suatu peperangan beliau pernah mengalahkan pasukan tentara Byzantium dengan jumlah pasukan 240.000. Padahal pasukan muslim yang dipimpinnya saat itu hanya berjumlah 46.000 orang. Dengan kejeliannya mengatur strategi, pertempuran itu bisa dimenangkannya dengan mudah. Pasukan musuh lari terbirit-birit.

Itulah Khalid bin Walid, beliau bahkan tak gentar sedikitpun menghadapi lawan yang jauh lebih banyak.

Ada satu kisah menarik dari Khalid bin Walid. Dia memang sangat sempurna di bidangnya; ahli siasat perang, mahir segala senjata, piawai dalam berkuda, dan karismatik di tengah prajuritnya. Dia juga tidak sombong dan lapang dada walaupun dia berada dalam puncak popularitas.

Pada suatu ketika, di saat beliau sedang berada di garis depan, memimpin peperangan, tiba-tiba datang seorang utusan dari Amirul mukminin, Syaidina Umar bin Khatab, yang mengantarkan sebuah surat. Di dalam surat tersebut tertulis pesan singkat, "Dengan ini saya nyatakan Jenderal Khalid bin Walid di pecat sebagai panglima perang. Segera menghadap!"

Menerima khabar tersebut tentu saja sang jenderal sangat gusar hingga tak bisa tidur. Beliau terus-menerus memikirkan alasan pemecatannya. Kesalahan apa yang telah saya lakukan? Kira-kira begitulah yang berkecamuk di dalam pikiran beliau kala itu.

Sebagai prajurit yang baik, taat pada atasan, beliaupun segera bersiap menghadap Khalifah Umar Bin Khatab. Sebelum berangkat beliau menyerahkan komando perang kepada penggantinya.

Sesampai di depan Umar beliau memberikan salam, "Assalamualaikum ya Amirul mukminin! Langsung saja! Saya menerima surat pemecatan. Apa betul saya di pecat?"

"Walaikumsalam warahmatullah! Betul Khalid!" Jawab Khalifah.

"Kalau masalah dipecat itu hak Anda sebagai pemimpin. Tapi, kalau boleh tahu, kesalahan saya apa?"

"Kamu tidak punya kesalahan."

"Kalau tidak punya kesalahan kenapa saya dipecat? Apa saya tak mampu menjadi panglima?"

"Pada zaman ini kamu adalah panglima terbaik."

"Lalu kenapa saya dipecat?" tanya Jenderal Khalid yang tak bisa menahan rasa penasarannya.

Dengan tenang Khalifah Umar bin Khatab menjawab, "Khalid, engkau jenderal terbaik, panglima perang terhebat. Ratusan peperangan telah kau pimpin, dan tak pernah satu kalipun kalah. Setiap hari Masyarakat dan prajurit selalu menyanjungmu. Tak pernah saya mendengar orang menjelek-jelekkan. Tapi, ingat Khalid, kau juga adalah manusia biasa. Terlalu banyak orang yang memuji bukan tidak mungkin akan timbul rasa sombong dalam hatimu. Sedangkan Allah sangat membenci orang yang memiliki rasa sombong''.

''Seberat debu rasa sombong di dalam hati maka neraka jahanamlah tempatmu. Karena itu, maafkan aku wahai saudaraku, untuk menjagamu terpaksa saat ini kau saya pecat. Supaya engkau tahu, jangankan di hadapan Allah, di depan Umar saja kau tak bisa berbuat apa-apa!"

Mendengar jawaban itu, Jenderal Khalid tertegun, bergetar, dan goyah. Dan dengan segenap kekuatan yang ada beliau langsung mendekap Khalifah Umar.

Sambil menangis beliau berbisik, "Terima kasih ya Khalifah. Engkau saudaraku!"

Bayangkan …. mengucapkan terima kasih setelah dipecat, padahal beliau tak berbuat kesalahan apapun. Adakah pejabat penting saat ini yang mampu berlaku mulia seperti itu? Yang banyak terjadi justru melakukan perlawanan, mempertahankan jabatan mati-matian, mencari dukungan, mencari teman, mencari pembenaran, atau mencari kesalahan orang lain supaya kesalahannya tertutupi.

Jangankan dipecat dari jabatan yang sangat bergengsi, 'kegagalan' atau keterhambatan dalam perjalanan karir pun seringkali tidak bisa diterima dengan lapang dada. Akhirnya semua disalahkan, sistem disalahkan, orang lain disalahkan, semua digugat.....bahkan hingga yang paling ekstrim.... Tuhan pun digugat..

Kembali ke Khalid bin Walid, hebatnya lagi, setelah dipecat beliau balik lagi ke medan perang. Tapi, tidak lagi sebagai panglima perang. Beliau bertempur sebagai prajurit biasa, sebagai bawahan, dipimpin oleh mantan bawahannya kemarin.

Beberapa orang prajurit terheran-heran melihat mantan panglima yang gagah berani tersebut masih mau ikut ambil bagian dalam peperangan. Padahal sudah dipecat. Lalu, ada diantara mereka yang bertanya, "Ya Jenderal, mengapa Anda masih mau berperang? Padahal Anda sudah dipecat."

Dengan tenang Khalid bin Walid menjawab, "Saya berperang bukan karena jabatan, popularitas, bukan juga karena Khalifah Umar. Saya berperang semata-mata karena mencari keridhaan Allah."

****************
Sebuah cuplikan kisah yang sangat indah dari seorang Jenderal, panglima perang, ''Pedang Allah yg Terhunus''

Kamis, 20 Juli 2017

Guna memastikan pelaksanaan MTQ ke-40 tingkat Kabupaten Tanah Laut di Kecamatan Tambang Ulang berjalan dengan aman dan lancar, Sat Sabhara Polres Tanah Laut yang dipimpin oleh KBO Sat Sabhara melaksanakan Sterilisasi dan Pengamanan lokasi tempat pelaksanaan kegiatan, Kamis (20/7/2017).
 
Kegiatan MTQ ke-40 tingkat Kabupaten Tanah Laut dilaksanakan di lapangan sepak bola depan Taman Labirin Tambang Ulang mulai tanggal 20 Juli 2017 s/d 22 Juli 2017. "kami sudah melaksanakan Sterilisasi, dan sudah dapat dipastikan tempat aman, tapi diharapkan untuk bersiaga dan kesiapan untuk tetap konsisten dalam pengamanan" ungkap KBO Sat Sabhara Ipda Mujiono.

Kabag Ops Polres Tanah Laut Kompol Fauzan Arianto, SH, S.Ik menghimbau kepada seluruh personil untuk tetap waspada dalam Pengamanan tersebut agar pelaksanaan MTQ ke-40 tingkat Kabupaten Tanah Laut dapat berjalan dengan aman dan lancar.

Semoga Bermanfaat Bagi Masyarakat.



Selasa, 18 Juli 2017


Pada hari Selasa tanggal 18 Juli 2017 bertempat di gedung Satya Brata Polres Tanah Laut telah dilaksanakan Pelatihan Diskresi Kepolisian yang dibuka oleh Waka Polres Tanah Laut Kompol Iwan Hidayat, S.Ik
Instruktur Pelatihan adalah Kabag Sumda Kompol Ibnu Yulianto, Kasat Intelkam AKP William.P, dan Kasat Sabhara AKP Riswiadi, S.Sos, M.Ap.
Peserta Pelatihan adalah para Babhinkamtibmas Polsek, dan masing masing Satfung sebanyak 5 orang.
Kasat Sabhara AKP Riswiadi, S.Sos, M.Ap selaku Instruktur menyampaikan materi pelatihan Diskresi Kepolisian yang memiliki wewenang atas pertimbangan moral dan hukum.serta Perkap 01 tahun 2009 tentang Penggunaan Kekuatan dalam tindakan Kepolisian. Yang sebelumnya juga sudah disampaikan kepada anggota Sat Sabhara Polres Tanah Laut.

Kasat mengatakan, Seluruh anggota Kepolisian agar melakukan tindakan yang tepat saat diberikan kewenangan diskresi dan harus tepat dalam mengambil keputusan, kalau kita bertindak terlalu berlebihan maka itu akan berakibat hukum ke kita baik internal maupun eksternal ke pidana. Sebaliknya kalau seandainya kita underestimate,salah, kurang tepat mengambil langkah, tidak menggunakan kewenangan yang ada pada kita, sehingga terganggu kepentingan publik, terganggu keselamatan diri dan orang lain.

Jadi setiap anggota harus mempunyai kemampuan yang baik dalam menganalisa suatu permasalahan yang ada di masyarakat. Kalau hal itu tidak dimiliki, akan berakibat fatal terhadap kepentingan publik. Dan juga jika anggota tidak memiliki kemampuan untuk menilai suatu peristiwa, tidak mampu untuk menentukan mengambil opsi tindakan dan tidak mampu mengambil keputusan apa yang tepat dan cepat dalam rangka menjaga ketertiban umum, kepentingan umum, keselamatan diri maupun orang lain, yang ada adalah bahwa kaki kanan di kuburan dan kaki kiri di penjara, seperti penembakan mobil satu keluarga di Sumatera Selatan oleh Polisi. Akibatnya polisi memberondong kearah mobil tersebut. Padahal mereka yang ada di dalam mobil itu hanya warga biasa.
Setiap anggota Polisi harus punya kemampuan untuk mampu menilai dan mengambil tindakan yang tepat, jika dirasa membahayakan diri sendiri dan masyarakat, petugas bisa melakukan tindakan tegas.

Kemudian AKP Riswiadi, S.Sos, M.Ap melanjutkan memberikan materi pelatihan tentang tahapan Peraturan Kapolri Nomor 1 tahun 2009 sbb : 
  1. Tahap I     : Different / Pencegahan.
  2. Tahap II    : Verbal / memberikan peringatan dengan lisan.
  3. Tahap III   : Pegangan tangan lunak.
  4. Tahap IV   : Pegangan tangan keras.
  5. Tahap V    : Dengan menggunakan alat (tongpol).
  6. Tahap VI   : Dengan menggunakan Senpi.
Selanjutnya Kasat Sabhara memerintahkan peserta pelatihan untuk melakukan peragaan mengenai Diskresi Kepolisian. Bagaimana jika terjadi suatu peristiwa tertentu dan apa yang harus dilakukan polisi, jangan sampai tindakan yang diambil berlebihan, dan jangan terlambat dalam merespon peristiwa tersebut. Bertindak berlebihan tidak boleh, bertindak terlalu kurang juga bisa jadi masalah.

Diharapkan para peserta pelatihan mampu dan mengerti tentang Diskresi Kepolisian serta Perkap 01 tahun 2009 tentang Penggunaan Kekuatan dalam tindakan Kepolisian

Selama kegiatan pelatihan berlangsung, berjalan dengan aman dan lancar.


Jumat, 23 Juni 2017


Sat Sabhara Polres Tanah Laut Polda Kalsel, membubarkan balapan liar di jalan raya depan Majelis Ta’lim Habib Ahmad desa Kandangan Lama Kecamatan Panyipatan, Jum’at (23/06/2017) sore tadi.

Kasat Sabhara Polres Tanah Laut AKP Riswiadi, S.Sos, M.Ap mengungkapkan bahwa aksi balapan liar tersebut diketahuinya saat melakukan patroli dan sekaligus untuk pengecekan Pembuatan Pos Pengamanan di obyek wisata pantai Batakan dan pantai Takisung. Saat melintas di jalan raya depan Majelis Ta’lim Habib Ahmad desa Kandangan Lama Kecamatan Panyipatan melihat anak anak muda sedang melakukan balapan liar, kemudian Kasat Sabhara bersama anggota langsung berhenti untuk membubarkan tapi mereka langsung bubar melarikan diri yang tinggal hanya para penonton.

Pihak Kepolisian menghimbau kepada seluruh orang tua agar selalu memperhatikan keberadaan anak anak nya. Karena balapan liar selain membuat ketenangan warga terganggu, juga dapat membahayakan diri sendiri dan pengguna jalan lainnya bahkan jiwa bisa melayang sia sia, mari lebih peduli terhadap anak anak kita jangan sampai mereka melakukan hal hal yang dapat membahayakan dirinya kata Kasat Sabhara.

Semoga Bermanfaat Bagi Masyarakat.


Senin, 19 Juni 2017

Mungkin Anda pernah merasa kesal karena orang lain tidak menghargai Anda. Barangkali Anda juga sering marah karena orang lain tidak memerhatikan Anda.
Pernahkah Anda berpikir bahwa Anda pun mungkin sekali kurang menghargai orang lain atau sering terlalu memperhatikan diri sendiri sehingga lupa memerhatikan orang lain di sekitar Anda? Nah, mungkin inilah yang harus Anda lakukan: menghargai orang lain. Bagaimana caranya?
Mengapa Harus Menghargai Orang Lain?
Suka atau tidak, kita hidup dengan berinteraksi dengan orang lain. Lalu, bagaimana cara kita membina hubungan baik dengan orang lain agar hidup kita menjadi lebih menyenangkan?
Saling Membutuhkan
Pernahkah Anda membayangkan jika segala sesuatu harus dilakukan sendiri: menanam padi sendiri untuk mendapatkan beras; menanam tumbuhan untuk membuat pakaian dan menjahit pakaian sendiri; membangun rumah sendiri dari awal; membuat kendaraan sendiri; mencuci baju sendiri; memasak sendiri; membersihkan rumah sendiri; dan mengambil keputusan sendiri? Pasti itu sangat melelahkan, merepotkan, atau bahkan tidak mungkin dilakukan.
Pasti ada hal-hal yang tidak bisa kita lakukan sendiri dengan baik. Guru membutuhkan murid, penulis membutuhkan pembaca, produsen membutuhkan konsumen, perusahaan membutuhkan karyawan dan konsumen, serta pemimpin membutuhkan anak buah. Tentu saja kondisi ini berlaku pula sebaliknya. Jadi intinya: kita semua saling membutuhkan.
Saling Menguntungkan
Selain saling membutuhkan, ternyata kita semua juga bisa saling menguntungkan. Kita merasa beruntung karena bisa berbagi dengan orang lain: kita mendapat pemasukan uang dan mendapat kepuasan karena ada orang lain yang mau menggunakan hasil karya kita. Orang lain juga merasa diuntungkan dengan kebaradaan kita karena mereka bisa mendapatkan apa yang mereka perlukan dari kita.
Misalnya, murid merasa diuntungkan karena ada guru yang mau berbagai ilmu dan keterampilan. Sebaliknya, guru juga merasa diuntungkan karena ia bisa membagi ilmu dan keterampilan kepada orang lain dan mendapat pemasukan dari pekerjaannya. Produsen merasa diuntungkan karena ada pembeli. Sebaliknya, pembeli juga merasa diuntungkan karena bisa mendapatkan barang atau jasa yang dibutuhkan tanpa harus repot membuatnya sendiri.
Saling Mengisi
Tidak ada satu orang pun yang benar-benar serupa dengan orang lain. Anak kembar sekalipun memiliki perbedaan. Kita memiliki perbedaan dalam kepribadian, talenta, kemampuan, gaya hidup, kebiasaan, dan kebutuhan. Namun perbedaan inilah yang membuat hidup menjadi lebih kaya, bervariasi, dan menyenangkan karena kita bisa saling mengisi.
Banyak restoran muncul karena banyak orang tidak bisa memasak masakan seperti masakan yang disajikan restoran itu, atau karena tidak ada waktu untuk melakukan aktivitas memasak. Banyak kursus bahasa asing juga muncul karena ada orang yang sudah fasih berbahasa asing, sementara ada juga orang yang ingin atau perlu belajar bahasa asing.
Saling Menguatkan
Selain perbedaan, persamaan pun bisa menguntungkan. Orang-orang yang memiliki persamaan bisa saling bekerja sama. Ringan sama dijinjing, berat sama dipikul, begitu kata pepatah. Rupanya pepatah ini muncul dari kesadaran bahwa dengan bekerja sama, segala sesuatu akan terasa lebih mudah.
Masalah menjadi lebih ringan dan menjadi lebih mudah dicarikan solusinya jika dipecahkan bersama. Pekerjaan berat akan menjadi lebih mudah dan lebih cepat selesai jika dikerjakan bersama.
Bagaimana Menghargai Orang Lain?
Tahukah Anda bahwa orang lain akan lebih menghargai orang yang menghargai mereka? Nah, sebelum kita menuntut orang lain menghargai kita, kita perlu terlebih dahulu menghargai mereka. Kuncinya hanya satu: buat orang lain merasa penting dan berharga.
Langkah 1: Kenali Orang-orang Sekitar
Tiap hari kita berinteraksi dengan orang lain. Orang-orang yang paling sering berhubungan dengan kita adalah mereka yang berada di sekitar kita: keluarga, tetangga, dan rekan sekerja. Nah, kenali orang-orang di sekitar kita. Perhatikan bahwa kita memiliki persamaan dan perbedaan dengan mereka. Dengan demikian akan lebih mudah bagi kita untuk bekerja sama dengan mereka dan menghargai mereka.
“Aduh, si Idah sering membuat saya kesal. Saya minta tolong panggilkan taksi biru, ternyata yang dipanggil adalah taksi kuning. Saya minta dibelikan bawang putih, yang dibawa pulang adalah bawang merah,” begitu cerita seorang teman.
Ternyata setelah diselidiki lebih jauh, Idah mempunyai kelemahan mengingat instruksi yang terlalu panjang. Ia cenderung mengingat kalimat terakhir yang diucapkan, apalagi jika kalimat tersebut diulang dua kali.
Sementara itu, teman penulis seringkali merasa khawatir instruksinya tidak dimengerti, sehingga cenderung mengulang “larangan” daripada “instruksi intinya”. Jadi tidak heran jika teman penulis berkata “Idah, tolong panggilkan taksi biru ya, jangan yang kuning. Sekali lagi, jangan yang kuning,” maka yang datang adalah justru taksi kuning. Setelah teman tersebut memahami perbedaan antara ia dan Idah, ia pun bisa mengubah strateginya dalam memberikan instruksi.
Ia selalu menempatkan instruksi di kalimat akhir dan diulang. Sejak saat itu penulis tidak lagi mendengar keluhan dari teman tersebut.
Langkah 2: Fokus pada Kelebihan
Seringkali kita lebih fokus pada kesalahan dan kekurangan orang lain. Hal ini menyebabkan kita sulit sekali menghargai mereka. Sebaliknya, karena kita selalu memperhatikan kekurangan orang lain, orang lain pun menjadi enggan berinteraksi dan bekerja sama dengan kita karena mereka merasa enggan jika selalu merasa “dipermalukan”. Yang perlu kita ubah adalah fokus kita: coba fokuskan perhatian kita terlebih dulu pada kelebihan orang lain, kita akan mendapatkan hasil yang luar biasa.
Coba perhatikan ilustrasi berikut:“Wah, tulisan tanganmu bagus dan rapih. Ibu juga senang kamu bisa menyerahkan pekerjaan rumah ini tepat waktu,” demikian ujar seorang ibu guru pada muridnya.
“Terima kasih, Bu. Saya memang berusaha menulis dengan baik. Namun ada beberapa kata yang masih sulit bagi saya untuk mengejanya. Jadi, lain kali saya akan minta bantuan ibu untuk menjelaskannya lagi dan saya akan berusaha menulis dengan ejaan yang benar,” begitu jawab si anak.
Yah, ternyata sang ibu guru tidak langsung menyalahkan tulisan anak tersebut yang ternyata masih banyak salah. Sebaliknya, ia memfokuskan perhatian pada kelebihannya terlebih dulu. Sang anak yang merasa sangat dihargai karena gurunya memerhatikan kelebihannya, lalu menjadi lebih terbuka meminta bantuan guna memerbaiki kesalahannya.
Langkah 3: Bangun Hubungan Saling Percaya
Ternyata hukum timbal balik memang berlaku dalam hidup ini. Jika kita tidak memercayai orang lain, mereka pun tidak akan memercayai kita. Sebaliknya, jika kita memercayai orang lain, orang lain akan memercayai kita. Sebuah kerja sama bisnis pada dasarnya harus dibangun atas dasar kepercayaan.
Usaha akan sukses dan langgeng jika pimpinan dan karyawan saling memercayai, jika produsen dan konsumen saling percaya. “Saya tahu Anda pernah melakukan kesalahan. Tapi, saya ingin memberikan kesempatan kepada Anda. Saya akan melupakan perbuatan yang lama. Coba kita memulai lembaran baru. Saya percaya Anda bisa berprestasi lebih baik. Saya lihat Anda punya potensi untuk itu. Coba buktikan.” Karena kata-kata inilah, Indra yang tadinya sudah kehilangan kepercayaan diri menjadi termotivasi untuk melakukan yang terbaik bagi pimpinannya yang telah memberikan kepercayaan kepadanya.
Banyak keuntungan yang bisa kita dapatkan jika kita mau menghargai orang lain: kita bisa saling membantu, saling menguatkan, dan saling menguntungkan sehingga hidup menjadi lebih menyenangkan. Sukses untuk Anda.

Followers

Diberdayakan oleh Blogger.

Social Icons

Social Icons

Featured Posts

Sponsor

Artikel Disarankan